“Wahai Amirul mukminin, manakah yang wajib kita ikuti, Kitab Allah ataukah ucapanmu ?” seorang Wanita dengan penuh keberanian melontarkan pertanyaan kepada Khalifah ‘Umar yang baru selesai berkhutbah.
Wanita itu menanggapi pernyataan ‘Umar yang melarang memahalkan mahar. ‘Umar membatasi, bawah mahar tidak boleh lebih dari 12 uqiyah atau setara dengan 50 dirham. Seraya menyatakan, “Sesungguhnya kalau ada seseorang yang memberikan atau diberi mahar lebih banyak dari mahar yang diberikan Rasulullah SAW pastilah aku ambil kelebihannya untuk Baitul mal”
Muslimah pemberani itu pun kemudian mengutip ayat Allah, “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata ?” (QS An Nisa’ : 20)
Khalifah ‘Umar menyadari kekhilafannya, kemudian dengan tanpa merasa malu, ia membenarkan ucapan wanita itu dan mengakui kesalahannya, “Wanita ini benar, dan ‘Umar salah” ucapnya di depan banyak orang.